belah duren

Selasa, 11 Maret 2014

Etnis,Gender,Bahasa, dan Budaya

Etnis

Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budayabahasaagamaperilaku, dan ciri-ciri biologis.
Menurut pertemuan internasional tentang tantangan-tantangan dalam mengukur dunia etnis pada tahun 1992, "Etnisitas adalah sebuah faktor fundamental dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah gejala yang terkandung dalam pengalaman manusia" meskipun definisi ini seringkali mudah diubah-ubah.Yang lain, seperti antropolog Fredrik Barth dan Eric Wolf, menganggap etnisitas sebagai hasil interaksi, dan bukan sifat-sifat hakiki sebuah kelompok. Proses-proses yang melahirkan identifikasi seperti itu disebut etnogenesis. Secara keseluruhan, para anggota dari sebuah kelompok suku bangsa mengklaim kesinambungan budaya melintasi waktu, meskipun para sejarawan dan antropolog telah mendokumentasikan bahwa banyak dari nilai-nilai, praktik-praktik, dan norma-norma yang dianggap menunjukkan kesinambungan dengan masa lalu itu pada dasarnya adalah temuan yang relatif baru.
  • Garis Keturunan
Anggota suatu suku bangsa pada umumnya ditentukan menurut garis keturunan (patrilinial) seperti suku Batak, menurut garis keturunan ibu (matrilineal) seperti suku Minang, atau menurut keduanya seperti suku Jawa. Adapula ditentukan menurut agamanya, sebutan Melayu di Malaysia untuk orang bumiputera yang muslim, orang Serani bagi yang beragama Nasrani (peranakan Portugis seperti orang Tugu), suku Muslim di Bosnia, orang Moro atau Bangsa Moro di Filipina Selatan, dan sebagainya.
  • Suku Bangsa Keturunan
Adapula suku bangsa berdasarkan percampuran ras seperti Orang Peranakan yang merupakan campuran bangsa Melayu dengan Tionghoaorang Indo sebutan campuran bule dengan bangsa Melayu, orang Mestis untuk campuran Hispanik dengan bumiputeraorang Mulato campuran ras Negroid dengan ras KaukasoidEurosia, dan sebagainya.
  • Sosiologi Hubungan Antara Ras dan Etnis
Sosiologi ras dan hubungan etnis adalah bidang disiplin ilmu yang mempelajari hubungan sosialpolitik, dan ekonomi antara ras dan etnisitas pada semua tingkatan masyarakat. Bidang ini mencakup studi tentang rasismepemisahan permukiman, dan proses sosial rumit lainnya antara kelompok ras dan etnis yang berbeda. Analisis sosiologi terhadap ras dan etnisitas sering berkaitan dengan bidang sosiologi yang lain seperti stratifikasi danpsikologi sosial, juga teori pascakolonial.
Di tingkat kebijakan politik, hubungan etnis diperbincangkan dalam hal asimilasionisme atau multikulturalismeAnti-rasisme membentuk bentuk kebijakan lain yang terkenal pada tahun 1960-an dan 70-an.
  •  Karakteristik Kelompok Etnis
Antropolog Amerika R. Naroll menyusun prinsip untuk menentukan batas- batas dari masyarakat, bagian suku bangsa yang menjadi pokok dan lokasi nyata dari deskripsi etnografi mereka, yaitu :
1.     Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh desa atau lebih.
2.     Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa.
3.     Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah politikal administrasi.
4.     Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri.
5.     Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografis yang merupakan kesatuan daerah secara fisik.
6.     Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi.
7.     Kesatuan masyarakat dengan pendudukan yang mengalami suatu pengalaman sejarah yang sama.
8.     Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksinya satu dengan yang lain merta tinggi.
9.     Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam.
  • Klasifikasi Kelompok Etnis
Menurut Van Vollenhown kelompok etnis diwilayah Indonesia dibagi menjadi ke dalam 19 daerah, yaitu :
1.     Aceh
2.     Gayo- Alas Batak
3.     Nias dan Batu
4.     Minangkabau
5.     Mentawai
6.     Sumatera Selatan
7.     Enggano
8.     Melayu
9.     Bangka dan Biliton
10. Kalimantan
11. Sangir- Talaud
12. Gorontalo
13. Toraja
14. Sulawesi Selatan
15. Ternate
16. Ambon Maluku
17. Kepulauan Barat Daya
18. Irian
19. Timor
20. Bali dan Lombok
21. Jawa Tengah dan Jawa Timur
22. Surakarta dan Yogyakarta
23. Jawa Barat
Gambar 1.1 Keberagaman Etnis di Indonesia

Gender

Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciridari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9).

Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) menegasakan bahwa istilah Gender dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut ini: Gender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu, Gender sebagai suatu fenomena sosial budaya, Gender sebagai suatu kesadaran sosial, Gender sebagai suatu persoalan sosial budaya, Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis, Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa gender merupakan aspek hubungan sosial yang dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia.

Istilah “gender” yang berasal dari bahasa Inggris yang di dalam kamus tidak secara jelas dibedakan pengertian kata sex dan gender. Untuk memahami konsep gender, perlu dibedakan antara kata sex dan kata gender.

Sex adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkan gender perbedaan jenis kelamin berdasarkan konstruksi sosial atau konstruksi masyarakat. Dalam kaitan dengan pengertian gender ini, Astiti mengemukakan bahwa gender adalah hubungan laki-laki dan perempuan secara sosial. Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dalam pergaulan hidup sehari-hari, dibentuk dan dirubah

Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
 
 Gambar 1.2 Gender Identity
 
Bahasa

A.      Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok.
B. Karakteristik Bahasa
Telah disebutkan di atas bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.
  • Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.
Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
  • Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
  • Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
  • Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
  • Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
C.      Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end”. Oleh karena itu fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode dan amanat pembicaraan.[2]
  • Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang sedih, marah atau gembira.
  • Fungsi Direktif
Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.
  • Fungsi Fatik
Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik. Artinya bahasa berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan secara harfiah.
Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur paralinguistik, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak gerik tangan, air muka atau kedipan mata. Ungkapan-ungkapan tersebut jika tidak disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai makna.
  • Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu berfungsi untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
  • Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa dijelaskan dengan bahasa.
  • Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi (khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa karya seni (puisi, cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur maupun para pendengarnya.
Gambar 1.3 Bahasa

Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaianbangunan, dan karyaseniBahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Gambar 1.4 Masyarakat Pedalaman Papua

Sumber Data dari:
Di unduh dari: Blog Tommy. Tanggal: 11 Maret 2014 http://dibustom.wordpress.com/2011/05/07/pengertian-bahasa-karakteristik-bahasa-dan-fungsi-bahasa-kajian-sosiolinguistik/
Di unduh dari: gudang materi Tanggal: 11 Maret 2014 http://www.gudangmateri.com/2011/01/pengertian-gender.html
Di unduh dari: Blog Syifaamalia Tanggal: 11 Maret 2014 http://syifaamalia22.wordpress.com/2012/04/15/definisi-budaya/
Di unduh dari: facebook etnisndo Tanggal: 11 Maret 2014 https://www.facebook.com/etnisindo/posts/113626725470439
Di unduh dari: Wikipedia Tanggal: 11 Maret 2014 http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_etnik
Di unduh dari: Wikipedia Tanggal: 11 Maret 2014 http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi_hubungan_ras_dan_etnis\
Di unduh dari: Blog jariku berbicara Tanggal: 11 Maret 2014 http://jari-jarikuberbicara.blogspot.com/2013/01/kelompok-etnis-indonesia.html
Racial and Ethnic Inequality
Di post:
Selasa, 11-03-2014
14.37

Minggu, 09 Maret 2014

Presentasi 1 Kelompok 6




The Behavioral Perspective: Observing The Outer Person
  • John B Watson berpendapat, menekankan betapa dibutuhkannya suatu  observasi dan eksperimen yang sitematis untuk mempelajari perilaku. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya
  Gambar 1.1 John B Watson

  • B F Skinner berpendapat, memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman danpemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. 
  Gambar 1.2 B.F Skinner

  • Fokus pada perilaku yang dapat diamati yang dapat diukur secara obyektif



The Cognitive Perspective: Identifying The Roots of Tnderstanding

  • Perspektif kognitif:
Perspektif (Inggris: Perspective) menurut ilmu kognitif adalah estimasi dalam pilihan politik atas konteks atau referensi dalam memilih ideologi yang dianggap legitimasi berdasarkan dari kodifikasi pengalaman, evaluasi dalam pembentukan kepercayaan yang koheren, pembandingan, paradigma, pandangan, komprehensif dan kenyataan
  • Berfokus pada bagaimana orang berpikir, memahami, dan mengetahui tentang dunia

  • Pengolahan informasi



The humanistic Perspective: The Unique Qualities of The Human Species

  • Humanistic Perspective
Psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Manusia, menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada-ada dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya.
  • Carl Ragers 
    Pandangan rogers secara esensial disusun oleh persepsi. Bagi rogers objek utama dari kajian psikologi adalah manusia dan dunia yang dipandang oleh manusia itu. Menurut rogers, oleh karena itu, kerangka fenomenologis internal dari referensi individual akan membentuk dasar psikologi yang tepat. Yang dapat dikaji terutama oleh hukum-hukum yang mengatur persepsi.
    Rogers memandang manusia sebagai bentuk-bentuk dari konsep dirinya (self concept) dan pengalaman di satu sisi, dan interpretasinya tentang stimulus lingkungan pada sisi yang lain. Inilah tingkatan kongruensi antara faktor-faktor tersebut  yang mempengaruhi perluasan aktualisasi diri yang terjadi. Rogers beragumentasi bahwa perubahan-perubahan dalam persepsi diri dan persepsi atas realitas menghasilkan perubahan yang serentak dalam perilaku dan hal itu memberikan kondisi psikologis tertentu bagi seseorang sehingga mempunyai kapasitas untuk mereorganisasi bidang persepsinya., termasuk bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Hal yang sangat penting adalah ancaman terhadap konsep diri, sebab diri biasanya menolak memasukkan pengalaman yang tidak konsisten dengan fungsinya. Maka rogers berpendapat bahwa ketika diri dipandang bebas dari ancaman serangan, maka diri mungkin akan menjawab persepsi yang bertolak dan mengintegrasikannya kembali diri dalam dalam cara yang sedemikian rupa hingga menjadi bagian darinya.
    Ia menganggap terapi sebagai suatu proses yang di dalam individu memiliki kesempatan untuk mengorganisasi kembali dunia subjektifnya (the subjective world), dan untuk mengintegrasikan dan mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, ia memandang proses utama dari terapi adalah memfasilitasi pengalaman individu untuk menjadi individu yang lebih otonom, spontan, percaya diri.
    Meskipun demikian, ketika desakan potensi aktualisasi diri, ketika desakan potensi aktualisasi diri ada dalam diri seseorang, Rogers menyatakan bahwa kondisi-kondisi yang yang dapat memfasilitasi perkembangannya terdapat pada hubungan seseorang dengan ahli terapi, dan terjadi melalui hubungan yang dekat, hangat secara emosional dan saling pengertian dimana individu bebas dari ancaman dan memiliki kebebasan untuk menjadi “diri yang sesungguhnya”.
    Saya sapat menetapkan keseluruhan hipotesis dalam satu kalimat, sebagai berikut: Jika saya dapat melakukakan suatu jenis hubungan tertentu, orang lain akan menemukan dalam dirinya kapasitas untuk tumbuh, dan berubah, serta perkembangan pribadi akan terjadi. (Rogers, 1961, hlm.33).
    Jenis hubungan yang dimaksud oleh rogers ini memiliki tiga kualitas khusus yang penting, pertama adalah antusias atau kemurnian dari para ahli terapi. Untuk mencapai hal itu ahli terapi harus sadar perasaanya sendiri, sejauh yang mungkin dilakukan, dan tidak menunjukkan sikap kepura-puraan, jika mungkin dapat mengekspresikan berbagai sikap dan perasaan. Kondisi kedua dari hubungan terapeutik adalah memandang positif kondisi yang tidak sama (unconditional positiv regard) kepada klien, memberi harga dan nilai kepada seseorang sebagai seorang individu yang terlepas dari kondisinya, perilaku dan perasaan, respek terhadap seseorang, dan penerimaan terhadap seseorang karena kebenaran yang dimilikinya. Kondisi ketiga dari hubungan itu adalah pengertian empatis atau mendengarkan secara tulus keinginan yang terus meenerus untuk memahami perasaan dan makna pribadi yang dialami seseorang.
    Jadi hubungan bermanfaat ini dicirikan sikap keterbukaan saya, dalam hal ini perasaan saya adalah tampak jelas, karena penerimaan terhadap orang lain ini sebagai orang yang terpisah dengan nilai kebenaran miliknya sendiri dan dengan pengertian empatis yang mendalam yag memungkinkan saya melihat dunia pribadinya melalui tatapan matanya. Pada saat kondisi-kondisi ini tercapai, saya menjadi kawan bagi klien saya, menemaninya dalam ketakutan mencari dirinya sendiri, kini dia merasakan bebas melakukannya.
      Konsep prinsip Pemikiran Rogers
    Adapun penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
    a.       Hasrat untuk Belajar
    Menurut Rogers, manusia mempunyai hasrat alami untuk belajar. Hal ini terbukti dengan tingginya rasa ingin tahu anak apabila diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan. Dorongan ingin tahu untuk belajar ini merupakan asumsi dasar pendidikan humanistik. Di dalam kelas yang humanistik anak-anak diberi kesempatan dan kebebasan untuk memuaskan dorongan ingin tahunya, untuk   memenuhi minatnya dan untuk menemukan apa yang penting dan berarti tentang dunia di sekitarnya.
    b.      Belajar yang Berarti
    Belajar akan mempunyai arti atau makna apabila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan maksud anak. Artinya, anak akan belajar dengan cepat apabila yang dipelajari mempunyai arti baginya.
    c.       Belajar Tanpa Ancaman
    Belajar mudah dilakukan dan hasilnya dapat disimpan dengan baik apabila berlangsung dalam lingkungan yang bebas ancaman. Proses belajar akan berjalan lancer manakala murid dapat menguji kemampuannya, dapat mencoba pengalaman-pengalaman baru atau membuat kesalahan-kesalahan tanpa mendapat kecaman yang bisaanya menyinggung perasaan.
    d.      Belajar atas Inisiatif Sendiri
    Belajar akan paling bermakna apabila hal itu dilakukan atas inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar. Mampu memilih arah belajarnya sendiri sangatlah memberikan motivasi dan mengulurkan kesempatan kepada murid untuk “belajar bagaimana caranya belajar” (to learn how to learn ). Tidaklah perlu diragukan bahwa menguasai bahan pelajaran itu penting, akan tetapi tidak lebih penting daripada memperoleh kecakapan untuk mencari sumber, merumuskan masalah, menguji hipotesis atau asumsi, dan menilai hasil. Belajar atas inisiatif sendiri memusatkan perhatian murid baik pada proses maupun hasil belajar. Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajar murid menjadi bebas, tidak bergantung, dan percaya pada diri sendiri. Apabila murid belajar atas inisiatif sendiri, ia memiliki kesempatan untuk menimbang-nimbang dan membuat keputusan, menentukan pilihan dan melakukan penilaian. Dia menjadi lebih bergantung pada dirinya sendiri dan kurang bersandar pada penilaian pihak lain.
    Di samping atas inisiatif sendiri, belajar juga harus melibatkan semua aspek pribadi, kognitif maupun afektif. Rogers dan para ahli humanistik yang lain menamakan jenis belajar ini sebagai whole-person-learning belajar dengan seluruh pribadi, belajar dengan pribadi yang utuh. Para ahli humanistik percaya, bahwa belajar dengan tipe ini akan menghasilkan perasaan memiliki (feeling of belonging ) pada diri murid. Dengan demikian, murid akan merasa terlibat dalam belajar, lebih bersemangat menangani tugas-tugas dan yang terpenting adalah senantiasa bergairah untuk terus belajar.
    e.       Belajar dan Perubahan
    Prinsip terakhir yang dikemukakan oleh Rogers ialah bahwa belajar yang paling bermanfaat ialah bejar tentang proses belajar. Menurut Rogers, di waktu-waktu yang lampau murid belajar mengenai fakta-fakta dan gagasan-gagasan yang statis. Waktu itu dunia lambat brerubah, dan apa yang diperoleh di sekolah sudah dipandang cukup untuk memenuhi tuntutan zaman. Saat ini perubahan merupakan fakta hidup yang sentral. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi selalu maju dan melaju. Apa yang dipelajari di masa lalu tidak dapat membekali orang untuk hidup dan berfungsi baik di masa kini dan masa yang akan dating. Dengan demikian, yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang mampu belajar di lingkungan yang sedang berubah dan akan terus berubah.
 Gambar 1.3 Carl Rogers

  • Abraham Maslow Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistikMaslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs atau Hirarki Kebutuhan. Kehidupan keluarganya dan pengalaman hidupnya memberi pengaruh atas gagasan gagasan psikologisnya.Setelah perang dunia ke II, Maslow mulai mempertanyakan bagaimana psikolog psikolog sebelumnya tentang pikiran manusia. Walau tidak menyangkal sepenuhnya, namun ia memiliki gagasan sendiri untuk mengerti jalan pikir manusia.
    Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi potensi dalam dirinya, untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. Untuk membuktikan bahwa manusia tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk mencapai sesuatu yang lebih, Maslow mempelajari seseorang dengan keadaan mental yang sehat, dibanding mempelajari seseorang dengan masalah kesehatan mental.Hal ini menggambarkan bahwa manusia baru dapat mengalami "puncak pengalamannya" saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya, lalu berpendapat manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
-          Kebutuhan fisik/biologis

-          Kebutuhan akan rasa aman

-          Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta

-          Kebutuhan akan penghagaan dan harga diri

-          Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri

-          Kebutuhan estetik
 Gambar 1.4 Abraham Maslow

  • Penekanan pada kehendak bebas

  • Mencapai pemenuhan diri



Isu Kunci

  1. Alam (Keturunan) versus Nurture (Environment)
  2. Sadar versus penyebab Sadar perilaku 
  3. Perilaku diamati dibandingkan Proses internal Mental
  4. Hak Bebas vs Determinisme 
  5. Perbedaan individu versus Universal Prinsip



Sumber Data:

Di unduh dari : Blog nining Tanggal 9 Maret 2014 http://niniing.blogspot.com/2012/11/teori-humanistik-carl-rogers.html
Di unduh dari : Blog nining Tanggal 9 Maret 2014 niniing.blogspot.com/2012/11/teori-humanistik-carl-rogers.html
Di unduh dari : Wikipedia Tanggal 9 Maret 2014 http://id.wikipedia.org/wiki/Perspektif_%28kognitif%29 
Di unduh dari : Blog Fadli Tanggal 9 Maret 2014 fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-behavioristik-john-watson-1878-1958.
Di unduh dari : Blog Dilla Tanggal 9 Maret 2014 http://teoripembelajaranbehavioris.blogspot.com/2010/09/teori-skinner-pelaziman-operan.html

di Post tanggal
Minggu, 9 maret 2014